Kriya Sulam Indonesia Perlu Didorong Agar Dikenal Luas Hingga Mancanegara
Ketua Umum Yayasan Sulam Indonesia Ny.Triesna Wacik mengatakan, kriya sulam seperti kain sulam, renda, manik-manik, kain bordir, dan seni sulam lainnya sudah lama tumbuh dan berkembang di berbagai daerah di tanah air, namun keberadaan seni kreatif ini belum sepopuler dibanding kain batik dan tenun songket yang sudah dikenal luas hingga ke mancanegara.
“Kriya sulam sebagai khasanah budaya bangsa Indonesia perlu kita kenalkan agar lebih dicintai oleh masyarakat. Jika ini terjadi, maka kesejahteraan masyarakat perajin akan semakin meningkat dan kekayaan khasanah budaya bangsa ini semakin berkembang dan lestari,” kata Ny.Triesna Wacik kepada wartawan di gedung Sapta Pesona Jakarta, Selasa (7/4).
Ny.Triesna Wacik didampingi Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film (NBSF) Depbudpar Tjetjep Suparman menyampaikan hal itu sehubungan akan digelar pameran ‘Gebyar Adikriya Sulam Indonesia : Produk Kreatif Masa Kini dan Masa Datang’ pada 24-28 April 2009 di Museum Nasional Jakarta.
Menurut Ny.Triesna Wacik, keberadaan Yayasan Sulam Indonesia ingin mengangkat potensi seni sulam Indonesia yang kaya kreasi dan tersebar di banyak daerah melalui kegiatan pameran yang pertama kali dalam Gebyar Adikriya Sulam Indonesia.
Selain pameran yang difasilitasi Ditjen NBSF Depbudpar itu juga diadakan lomba sulam yang diikuti sekitar 200 peserta kalangan perajin, kolektor, dan pelajar dari berbagai daerah di tanah air, workshop dan pelatihan, bazaar, serta fashion show dengan menampilkan kreasi para desainer kondang yang banyak menggunakan seni sulam dan produk turunannya dalam karya mereka. Beberapa produk unggulan seni kriya sulam dan produk turunnya dari para perajin dan kolektor dari berbagai daerah dan mancanegara seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam akan dipamerkan dalam acara itu